Highguard Luluh Lantak Setelah Rilis, Wildlight Curhat Soal Review Bomb dan Ragebait

Highguard Luluh Lantak Setelah Rilis, Wildlight Curhat Soal Review Bomb dan Ragebait
1 Min Read 0 19

Highguard Luluh Lantak Setelah Rilis, Wildlight Curhat Soal Review Bomb dan Ragebait HOME Latest Esports Valorant MLBB PUBG Dota 2 Business dan Tournaments Free Fire League of Legends Wild Rift Call of Duty Turnamen CS:GO All Esports News Games Tech The Best About We Are Ligagame Our Story What We Do Projects Contact HOME Latest Esports Valorant MLBB PUBG Dota 2 Business dan Tournaments Free Fire League of Legends Wild Rift Call of Duty Turnamen CS:GO All Esports News Games Tech The Best About We Are Ligagame Our Story What We Do Projects Contact Games Highguard Luluh Lantak Setelah Rilis, Wildlight Curhat Soal Review Bomb dan Ragebait by Febry “f0rsak3n” SusanFebruary 13, 2026 07:43 AM Share Tweet Share Share Email Share View Comments Kegagalan Highguard menjadi pukulan telak bagi Wildlight Entertainment. Setelah sempat digadang-gadang sebagai proyek ambisius dari tim berpengalaman, game ini justru tumbang tak lama setelah rilis. Kini, salah satu mantan petinggi developer tersebut angkat bicara dan menyebut budaya konten negatif sebagai salah satu penyebab utama kehancuran game tersebut. Josh Sobel, mantan Lead Tech Artist di Wildlight Entertainment, membagikan pandangannya melalui media sosial X. Dalam pernyataannya, ia menyebut Highguard sudah dicap gagal bahkan sebelum benar-benar mendapat kesempatan yang adil di pasar. Harapan Tinggi Sebelum Rilis Sebelum peluncuran, Highguard mendapat sorotan besar. Antusiasme komunitas meningkat karena tim pengembangnya berisi talenta yang sebelumnya terlibat dalam proyek besar seperti Apex Legends dan Titanfall. Secara internal, Sobel menyebut bahwa feedback terhadap Highguard sangat positif. Bahkan beberapa pihak di luar studio juga melihat potensi mainstream dari game tersebut. Tim pengembang merasa percaya diri bahwa mereka memiliki sesuatu yang spesial. Namun optimisme itu runtuh cepat setelah trailer perdana game ditayangkan menjelang The Game Awards 2025. “Dead on Arrival”: Efek Konten Negatif Menurut Sobel, gelombang reaksi negatif muncul hanya dalam hitungan menit setelah trailer dirilis. Ia menilai sebagian konten kreator lebih tertarik membangun narasi kritik tajam karena konten negatif cenderung menghasilkan engagement lebih tinggi dibanding ulasan positif. Akibatnya, Highguard disebut menjadi sasaran empuk konten ragebait. Berbagai video dan postingan media sosial dipenuhi komentar bernada sinis. Istilah seperti “Concord 2” dan “Titanfall 3 died for this” membanjiri kolom komentar, bahkan banyak yang disalin-tempel secara masif. Sobel menyebut bahwa setiap unggahan resmi Highguard langsung dibanjiri downvote dan komentar negatif, menciptakan persepsi publik bahwa game tersebut gagal sebelum benar-benar dimainkan secara luas. BACA JUGA: Respon Kritik Pemain, Developer Highguard Resmi Jadikan Mode 5v5 Permanen ! Review Bomb dan Dampaknya Salah satu poin paling krusial yang diangkat Sobel adalah fenomena review bombing. Ia mengungkapkan bahwa saat peluncuran, Highguard menerima lebih dari 14 ribu review negatif dari akun dengan waktu bermain kurang dari satu jam. Bahkan, menurutnya, banyak pemain yang belum menyelesaikan tutorial wajib tetapi sudah memberikan ulasan buruk. Meski mengakui bahwa Highguard memiliki kekurangan dan pantas menerima kritik konstruktif, Sobel menilai gelombang ulasan negatif masif tersebut menghancurkan momentum awal game. Padahal, pada hari pertama rilis, jumlah pemain awal terbilang solid. Sayangnya, dalam 24 jam berikutnya, sebagian besar pemain meninggalkan game dan angka tersebut tak pernah pulih. Nah, fenomena “Review Bomb” ini mirip-mrip dengan kategori “Soceng”. Apa itu?? Mengutip definisi menurut situs resmi OJK, soceng atau social engineering alias rekayasa sosial. Bentuk review “berjamaah” tentu bisa dianalisa, apakah menggunakan “Bot” atau organic. Nah, pun organic alias real person , player, tetap saja terbuka untuk “peluang” social engineering .Well, bukan rahasia kalau di dunia maya ada bidang usaha atau jasa dengan misi antara “menaikkan” maupun “menurunkan” sebuah topik. Di industri game, bisa jadi ada jasa untuk menaikkan review atau sebaliknya. Demikian pula di dunia esports, dimana bahkan ada penyedia jasa untuk “menteror” yang tujuannya tak lain menghancurkan mental. Nah, kalau di dunia finansial ya ditujukan untuk hal mendapat keuntungan langsung dari korban,  Dampak Personal dan PHK Massal Tak hanya berdampak pada performa game, situasi ini juga memengaruhi kondisi internal studio. Baru-baru ini muncul laporan bahwa Wildlight Entertainment melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sebagian besar stafnya. Sobel sendiri mengaku menerima serangan personal di media sosial hingga harus mengunci akun demi menjaga kesehatan mentalnya. Namun langkah tersebut justru memicu ejekan tambahan dari sebagian kreator, yang memperburuk gelombang pelecehan daring. Peringatan untuk Developer Independen Menurut Sobel, kasus Highguard bisa menjadi peringatan bagi developer independen lainnya. Jika tren review bombing dan budaya konten negatif terus berlanjut, ia khawatir semakin sedikit studio kecil yang berani mengambil risiko membuat game multiplayer ambisius. Pasar game modern, terutama untuk genre multiplayer live-service, memang sangat kompetitif. Persepsi publik dalam 24–48 jam pertama peluncuran bisa menentukan hidup-matinya sebuah proyek. Dalam era media sosial dan konten viral, narasi yang terbentuk di awal sering kali lebih kuat daripada pengalaman bermain itu sendiri. Refleksi Industri Game Modern Kasus Highguard membuka diskusi lebih luas tentang hubungan antara developer, konten kreator, dan komunitas. Kritik tentu penting untuk perkembangan industri. Namun ketika opini negatif berubah menjadi kampanye masif yang membentuk persepsi sebelum pengalaman nyata, dampaknya bisa fatal. Apakah Highguard benar-benar gagal karena kualitasnya, atau karena narasi yang terlanjur terbentuk? Pertanyaan ini mungkin sulit dijawab sepenuhnya. Namun satu hal jelas: di era digital saat ini, reputasi game bisa hancur hanya dalam hitungan jam.   Ikuti terus berita GAMES dan Esports dan di Ligagame! Kunjungi Instagram dan Youtube Ligagame.tv yang selalu update dan kekinian.  Baca selanjutnya: Cairn, Game Survival Climbing yang Hype di Steam, 15 Ribu Player Aktif dengan 94% Review Positif! View the discussion thread. back to top BERITA REKOMENDASI 23savage Kegep Smurfing & AFK di Pub, Korb3n Sindir Winstreak Aurora Bisa 1000 Game! Nongshim RedForce Lolos ke VALORANT Masters Santiago, RRQ Masih Punya 2 Peluang! Roshan Cosmic 2025 Muncul Diam-Diam di Bundle Collector’s Aegis TI, Cuma Gamer Tertentu yang Bisa Dapat? Diablo 4 Ekspansi Kedua Bawa Warlock, Ini Bocoran Gameplay dan Skillnya! LIGAGAME ESPORTSThe First Full-Service Esports Agency in Indonesia Ligagame Esports adalah Media & Broadcasting Production Company tertua di Indonesia, dengan platform informasi seputar esports, games, dan live streaming yang bertujuan untu

Argentendo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *