Review PRAGMATA – Unik, Menantang, dan Berhasil Beda

Review PRAGMATA – Unik, Menantang, dan Berhasil Beda
1 Min Read 0 7

Review PRAGMATA – Unik, Menantang, dan Berhasil Beda | GamerWK Home Berita Mobile Games iOS Android Konsol PlayStation 4 PlayStation 5 Nintendo Switch Xbox One Xbox Series S Xbox Series X PC Opini Wawancara Situs Saudara Wanuxi GamerBraves Gamer Santai Gamer555 Borderlands 4 No Result View All Result Home Berita Mobile Games iOS Android Konsol PlayStation 4 PlayStation 5 Nintendo Switch Xbox One Xbox Series S Xbox Series X PC Opini Wawancara Situs Saudara Wanuxi GamerBraves Gamer Santai Gamer555 Borderlands 4 No Result View All Result No Result View All Result Review PRAGMATA – Unik, Menantang, dan Berhasil Beda by Taufik April 13, 2026 in Konsol, Nintendo Switch 2, PC, PlayStation 5, Review, Xbox Series S, Xbox Series X 0 PRAGMATA jadi game sci-fi yang langsung terasa beda sejak awal, terutama lewat kombinasi aksi tembak-menembak dan hacking real-time. Share ke FacebookShare ke TwitterShare ke Telegram PRAGMATA jadi salah satu game sci-fi yang langsung terasa beda sejak awal, terutama lewat kombinasi aksi tembak-menembak dan hacking real-time yang berjalan bersamaan. Kami mendapatkan kesempatan untuk mencoba dan mereview game ini lebih dulu, dan dari beberapa jam pertama saja sudah terlihat jelas kalau ini bukan game yang bisa dimainkan santai tanpa fokus. Di balik gameplay yang cukup menuntut, PRAGMATA juga membawa cerita yang lebih personal lewat hubungan antara Hugh Williams dan Diana. Perpaduan antara tekanan saat bermain dan momen cerita yang lebih tenang ini bikin pengalaman yang ditawarkan terasa unik dan cukup membekas. Seperti apa detailnya? Simak review kami selengkapnya! Cerita Berawal dari Ikatan yang Tidak Terduga PRAGMATA mengambil setting di masa depan dekat, beberapa tahun setelah umat manusia menemukan lunum ore dan menggunakannya untuk mengembangkan Lunafilament, sebuah material revolusioner yang mampu mereplikasi apa pun selama datanya tersedia. Suatu hari, seluruh komunikasi dengan stasiun riset di bulan tiba-tiba terputus, dan sebuah tim dikirim untuk menyelidiki. Hugh Williams adalah salah satu anggota tim tersebut, sampai sebuah gempa bulan yang brutal memisahkan mereka dan membuatnya terluka parah. Di titik inilah Diana muncul — seorang android misterius dalam wujud anak kecil, sebuah Pragmata yang tercipta dari Lunafilament itu sendiri. Menariknya, Hugh tidak langsung digambarkan sebagai sosok pelindung. Dalam timnya, dia terasa seperti anggota baru yang masih gugup, terlihat panik saat gempa terjadi dan kru menghilang, bergantung pada pemimpin tim yang lebih berpengalaman. Pertemuannya dengan Diana jadi titik balik. Ada rasa tanggung jawab yang muncul secara perlahan, membuatnya bangkit: melindungi gadis yang bahkan belum dia kenal, dan mencari cara untuk kembali menghubungi Bumi. Bulan yang dingin dan sepi ini jadi awal dari hubungan yang tidak terduga. Terjebak tanpa bantuan dan tanpa jalan pulang, koneksi antara “ayah dan anak” dadakan ini semakin kuat di bawah tekanan situasi. Game ini juga tidak jatuh ke klise “orang dewasa kuat melindungi anak lemah”. Hugh dan Diana ditulis sebagai pasangan setara — Hugh fokus pada tembak-menembak dan pertarungan fisik, sementara Diana meng-hack. Keduanya benar-benar saling bergantung, dan hal ini terasa natural dalam gameplay. Combat Dua Karakter, Satu Ritme Hugh punya empat slot senjata yang jadi inti sistem combat. Satu slot selalu diisi Grip Gun, senjata default dengan peluru tak terbatas yang reload otomatis secara perlahan — semacam jaring pengaman supaya pemain tidak pernah benar-benar kehabisan opsi. Nantinya, Pulse Carbine juga bisa digunakan di slot ini, dengan damage lebih kecil tapi rate tembak tinggi. Keduanya punya fungsi berbeda, dan tahu kapan harus ganti jadi skill tersendiri. Tiga slot lainnya dibagi ke kategori: Attack Units Defense Units Tactical Units Setiap kategori punya peran masing-masing dan bisa disesuaikan dengan gaya main. Kapasitasnya akan bertambah seiring progres, tapi tidak bisa pakai senjata yang sama dua kali. Attack Units fokus ke damage langsung: Shockwave Gun seperti shotgun jarak dekat Charge Piercer butuh charge tapi hasilnya tembakan tembus Photon Laser jadi beam berkelanjutan Defense Units lebih ke survival: Decoy Generator memancing perhatian musuh Tactical Units untuk kontrol area: Stasis Net menghentikan musuh sementara Riot Blaster seperti grenade launcher Sticky Bomb menghapus baris atau kolom di panel hacking Musuh dan Mekanik Arena Variasi musuh di full game jauh lebih luas. Robot bola sekarang punya banyak tipe: terbang, jarak jauh, dan melee cepat. Robot humanoid terasa lebih “manusiawi” dan bisa memblokir hacking Diana sampai Hugh menghancurkan pelindung wajah mereka. Musuh baru seperti robot laba-laba juga muncul. Mereka bisa cloak dan menyerang tiba-tiba. Kalau tertangkap, pemain dipaksa masuk ke sequence hacking cepat atau Hugh akan kena damage tambahan. Lingkungan juga punya peran penting: Laser bisa diaktifkan lewat hacking Area listrik bisa dimanfaatkan untuk menjebak musuh Jammer adalah ancaman utama karena mematikan semua kemampuan Diana Boss Fight yang Bikin Setiap Pertarungan Terasa Megah Setiap boss fight di PRAGMATA terasa seperti momen besar, bukan sekadar variasi musuh biasa. Tidak ada yang terasa diulang atau sekadar pengisi. Pertarungan pertama melawan robot tempur berat di dalam stasiun berfungsi seperti ujian dari semua mekanik dasar yang sudah dipelajari. Pola serangannya beragam, mulai dari charge sampai peluncuran granat yang terus mengejar, memaksa pemain untuk benar-benar memahami ritme permainan. Pertarungan berikutnya langsung mengubah skala dengan menghadirkan arena berupa rekreasi kota New York di permukaan bulan. Kontras visualnya langsung terasa kuat. Boss di area ini memiliki beberapa fase dengan serangan yang semakin kompleks. Salah satu serangannya bahkan mencakup seluruh area, membuat pemain tidak punya tempat aman sama sekali selain naik ke bangunan yang tersebar di arena. Momen ini terasa sangat intens karena timing yang dibutuhkan benar-benar sempit. Boss ketiga membawa desain yang lebih aneh dan mengganggu, dengan bentuk gabungan kalajengking dan gurita mekanis. Ada elemen visual yang terasa hampir organik, memberikan kesan yang berbeda dibanding estetika sci-fi bersih di bagian lain game. Semua pertarungan ini didukung oleh efek visual besar dan sound design yang kuat, membuat setiap encounter terasa sinematik tanpa mengorbankan gameplay. Hacking Jadi Inti Gameplay yang Beda dari yang Lain Hal yang benar-benar membedakan PRAGMATA adalah sistem hacking-nya. Saat Hugh bertarung secara fisik, pemain juga harus mengontrol Diana untuk melakukan hacking secara real-time. Setiap musuh memiliki panel unik yang harus diselesaikan, menjadikan setiap encounter terasa seperti kombinasi antara aksi dan puzzle. Proses hacking sendiri melibatkan navigasi dari titik awal ke titik akhir, dengan berbagai node yang bisa dimanfaatkan di sepanjang jalur. Ada node yang meningkatkan damage, ada juga yang memberik

Argentendo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *